Sesuai dengan prinsip self-assessment yang dianut di Indonesia, Wajib Pajak harus menghitung,
memperhitungkan, membayar, dan melaporkan pajak yang terutang sendiri ke KPP
tempat Wajib Pajak Terdaftar. Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) merupakan
bentuk pertanggung jawaban atas kewajiban perpajakan yang telah dipenuhinya
dalam suatu Masa Pajak atau Tahunan Pajak atau Bagian Tahunan Pajak dalam sistem
tersebut. Pembahasan berikut ini mengacu pada UU KUP dan peraturan pelaksana
terkait dengen SPT (Peraturan Menkeu No.243/PMK.03/2014)
Pengertian
SPT
SPT adalah Surat yang oleh Wajib Pajak
digunakan untuk melaporkan :
·
Perhitungan atau pembayaran pajak
·
Objek pajak atau bukan bukan objek pajak
·
Harta dan kewajiban
Menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan
Fungsi
SPT
1. Bagi
wajib Pajak Pajak Penghasilan, funsi SPT adalah sebagai sarana untuk melaporkan
dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang
dan untuk melaporkan tentang:
- Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak.
- Laporan tentang pemenuhan penghasilan yang merupakan objek pajak dan/atau bukan objek pajak.
- Harta dan kewajibann
- Pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak
2. Bagi
Pengusaha Kena Pajak, fungsi SPT adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan
jumlah Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang
sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang:
- Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran.
- Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak atau melalui pihak lain dalam satu masa pajak, yang ditentukan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.yang berlaku.
3. Bagi
Pemotong/Pemungut Pajak, fungsi SPT adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan
mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipunggut dan disetorkan
Jenis
SPT
Jenis SPT
|
Jenis SPT
|
a.
Masa
|
a) PPh
Pasal 21 dan Pasal 26
b) PPh
Pasal 22
c) PPh
Pasal 23 dan Pasal 26
d) PPh
Pasal 4 ayat 2
e) PPh
Pasal 15
f) PPh
Pasal 25
g) PPN
(form 1107 & 1108)
|
b.
Tahunan
|
a)
PPh WP Badan (1771 & 1771$)
b)
PPh WP OP (form 1770 & 1770S –
1770SS
|
Batas
Waktu Penyampaian SPT
Jenis SPT
|
Batas Waktu
Pelaporan
|
ü SPT Masa PPh Pasal
21/26
ü SPT Masa PPh Pasal
22 /pemungut lainnya
ü SPT Masa PPh Pasal
23 dan Pasal 26
ü SPT Masa PPh Pasal
4 ayat 2 dan Pasal 15
ü SPT MasaPPh Pasal
25
|
Max 20 hari
setelah
akhir masa
pajak
|
ü SPT Masa PPN (form
1107 & 1108)
ü SPT Masa PPn BM (form
1101BM)
|
Akhir bulan berikutnya
setelah masa pajak (UU PPN)
|
ü
PPh Pasal 22 dan PPN/PPnBM
Oleh Bea Cukai
|
Max 7 hari
setelah
Penyetoran
|
ü PPN/PPnBM & PPh
Psl 22 oleh Bendaharawan
|
Max tgl 14 setelah
akhir masa pajak
|
ü SPT Tahunan PPh OP
|
Max 3 bulan
setelah akhir thn pajak, dapat diperpanjang dengan Surat Pemberitahuan
tertulis paling lambat 2 bulan
|
ü SPT Tahunan PPh
Badan
|
Max 4 bulan setelah akhir tahun pajak,
diperpanjang paling lambat 2 bulan
|
Sanksi
Keterlambatan Pelaporan
Pasal 7(1)-7(2)
Sanksi adminitrasi berupa denda:
a)
Rp. 500.000,- untuk SPT Masa PPN
b)
Rp.
100.000,- untuk SPT Masa lainnya
c)
Rp.
100.000,- untuk SPT Tahunan PPh OP
d)
Rp.
1.000.000,- untuk SPT Tahunan PPh Badan
Sanksi keterlambatan tidak dikenakan untuk:
a) WP OP yang telah meninggal dunia
b) WP OP yang sudah tidak melakukan kegiatan
usaha atau pekerjaan bebas
c) WP OP WNA yang tidak lagi tinggal di Indonesia
d) BUT yang tidak melakukan kegiatan usaha di
Indonesia
e) Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi
f) WP
yang terkena bencana (diatur dengan Permenkeu)
g) WP
lain (diatur dengan Permenku)
h) WP
Badan yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tapi belum dibubarkan.
|
No
|
Jenis SPT Masa
|
Batas Waktu Pembayaran/Penyetoran
|
|
1
|
PPh
Pasal 4 ayat (2) yang dipotong oleh Pemotong
|
tanggal
10 (sepuluh) bulan berikutnya
|
|
2
|
PPh
Pasal 4 ayat (2) yang harus dibayar sendiri
|
tanggal
15 (lima belas) bulan berikutnya
|
|
3
|
PPh
Pasal 4 ayat (2) atas pengalihan atas tanah/atau bangunan baik
dipotong/dipungut atau dibayar sendiri
|
Sebelum
akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang ditandatangani
oleh pejabat yang berwenang
|
|
4
|
PPh
Pasal 15 yang dipotong oleh pemotong
|
tanggal
10 (sepuluh) bulan berikutnya
|
|
5
|
PPh
Pasal 15 yang harus dibayar sendiri
|
tanggal
15 (lima belas) bulan berikutnya
|
|
6
|
PPh
pasal 21 yang dipotong oleh pemotong
|
tanggal
10 (sepuluh) bulan berikutnya
|
|
7
|
PPh
Pasal 23/26 yang dipotong oleh pemotong
|
tanggal
10 (sepuluh) bulan berikutnya
|
|
8
|
PPh
pasal 25
|
tanggal
15 (lima belas) bulan berikutnya
|
|
9
|
PPh
Pasal 22, PPN, PPnBM atas impor
|
Bersamaan
dengan saat pembayaran bea masuk. Atas impor harus dilunasi saat penyelesaian
dokumen pemberitahuan pabean impor
|
|
10
|
PPh
Pasal 22, PPN, PPnBM atas impor yang dipungut DJBC
|
disetor
dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah dilakukan pemungutan pajak
|
|
11
|
PPh
pasal 22 yang dipungut Kuasa Pengguna Anggaran/Pejabat penanda tangan SPM
|
disetor
pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran/pencairan melalui KPPN
|
|
12
|
PPh
pasal 22 yang dipungut bendahara
|
disetor
pada 7 hari setelah pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang yang
dibiayai APBN/APBD, dengan menggunakan SSP an. Rekanan dan di tanda tangani
Bendahara
|
|
13
|
PPh
pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh WP Badan tertentu
|
tanggal
10 (sepuluh) bulan berikutnya
|
|
14
|
PPN
atau PPN dan PPnBM yang terutang dalam satu Masa Pajak
|
akhir
bulan berikutnya
|
|
15
|
PPN
yang terutang atas pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari luar
pabean
|
tanggal
15 (lima belas) bulan berikutnya
|
|
16
|
PPN
Kegiatan Membangun Sendiri / PPN KMS
|
tanggal
15 (lima belas) bulan berikutnya
|
|
17
|
PPN,
PPnBM yang dipungut pejabat penandatangan SPM sebagai pemungut PPN
|
disetor
pada hari yang sama saat pelaksanaan pembayaran melalui KPPN
|
|
18
|
PPN,
PPnBM yang dipungut bendahara pengeluaran sebagai pemungut PPN
|
7
(tujuh) hari setelah tanggal pelaksanaan pembayaran melalui KPPN
|
|
19
|
PPN,
PPnBM yang dipungut oleh pemungut PPN selain Bendahara Pemerintah
|
tanggal
15 (lima belas) bulan berikutnya
|
|
20
|
PPh
Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (3b) Undang-Undang KUP yang melaporkan beberapa Masa Pajak dalam
satu Surat Pemberitahuan Masa
|
dibayar
paling lama pada akhir Masa Pajak terakhir
|
|
21
|
Pembayaran
masa selain PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3b)
|
harus
dibayar paling lama sesuai dengan batas waktu untuk masing-masing jenis pajak
|
|
No
|
Jenis SPT Tahunan
|
Batas Waktu
Pembayaran/Penyetoran
|
|
1
|
Orang Pribadi
|
sebelum Surat Pemberitahuan
Pajak
|
|
2
|
Badan
|
· STP, SKPKB, SK Keberatan, SK Pembetulan, Putusan Banding, Putusan PK harus dilunasi dalam jangka waktu 1 bulan sejak tanggal diterbitkan (Psl 9 – 3)
·
Bagi
WP usaha kecil dan WP didaerah tertentu – dapat diperpanjang paling lambat 2
bulan (Psl 9-3a)
·
Atas
permohonan WP, DJP dapat memberikan persetujuan untuk mengansur atau menunda
pembayaran pajak termasuk kekurangan pembayaran pajak dalam SPT Tahunan paling
lama 12 bulan.
Sarana Tempat
Pembayaran Pajak
Pasal 10
Sanksi
Keterlambatan Pembayaran Pajak
|
Dasar Hukum
|
Pasal yang
dilanggar
|
Jenis
Keterlambatan
|
Sanksi
|
|
Psl
9 (2.a)
|
Pasal
9 (1)
|
Pembayaran
SPT Masa setelah tanggal jatuh tempo
|
2
% per bulan
|
|
Psl
9 (2.b)
|
Pasal
9 (2)
|
Pembayaran
SPT Tahunan setelah Jatuh Tempo penyampaian SPT Tahunan
|
2
% per bulan
|
|
Psl
19 (1)
|
Pasal
9 (3)
|
Pembayaran
STP, SKPKB, SKPKBT, SK Keberatan, SK Pembetulan, Putusan Banding, Putusan PK
|
2
% per bulan
|
Pembetulan
SPT
|
Pasal
|
Ketentuan/Kondisi
|
Syarat
|
Konsekuensi
|
|
8(1)
|
WP dapat membetulkan SPT
|
• Menyampaikan pernyataan tertulis
• DJP blm melakukan pemeriksaan
|
|
|
8(1.a)
|
SPT Pembetulan Lebih Besar atau Rugi
|
Disampaikan paling lambat 2 tahun sebelum
daluwarsa penetapan (5 thn)
|
|
|
8(2)
|
SPT Pembetulan mengakibatkan utang pajak lebih besar
|
2 % perbulan dari jmlh KB (sejak saat penyampaian
SPT berakhir s.d. pembayaran)
|
|
|
8(3)
|
WP sudah diperiksa tapi blm dilakukan penyidikan
|
• Dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya
• Membayar kekurangan pajak terutang
|
• tidak dilakukan penyidikan
• dikenakan sanksi 150 % dari jumlah KB
|
|
8 (4) dan 8(5)
|
WP sudah diperiksa tetapi blm diterbitkan surat
ketetapan pajak
|
•
Dengan kemauan sendiri
mengungkapkan pengisian SPT
•
Dilakukan dalam laporan
tersendiri
•
Harus mencerminkan keadaan
yang sebenarnya
|
•
Jika ada KB ditambah
sanksi 50 %
•
Harus dilunasi sebelum
laporan tersendiri disampaikan
•
Pemeriksaan tetap
dilanjutkan
|
|
8(6)
|
Wajib Pajak dapat membetulkan SPT Tahunan yang
telah disampaikan, Dalam hal WP menerima SKP, SK keberatan, SK pembetulan,
putusan banding, atau putusan peninjauan kembali tahun pajak sebelum atau beberapa
tahun pajak sebelumnya, yang menyatakan rugi fiscal berbeda dengan rugi fiscal
yang telah dikompensasikan dalam SPT Tahunan yang akan akan dibetulkan
tersebut.
|
·
DJP belum melakukan tindakan pemeriksaan
·
Pembetulan tersebut harus dilakukan paling lama tiga
bulan setelah menerima surat ketetapan pajak (SKPN, SKPLN, SKPKB, SKPKBT),
Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, Surat
Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan
Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali. Jangka waktu tiga bulan tersebut
dihitung sejak tanggal stempel pos pengiriman, dalam hal diterima secara
langsung, jangka waktu tiga bulan dihitung sejak tanggal diterima
|
|




Comments
Post a Comment